
"Aman. Stok kita sekarang kurang lebih 1,7 juta ton sampai Mei 2018," kata Amran di Kemenko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Senin 18 September 2017.
Amran mengatakan , pemerintah telah mempersiapkan infrastruktur untuk tiga tahun untuk irigasi tersier yang bisa diselesaikan tiga juta hektar (ha) dalam waktu 1,5 tahun.
Lalu ada juga penyediaan pompa (pompanisasi) yang jumlahnya puluhan ribu, pembangunan embung, sumur dangkal, sumur dalam yang dipersiapkan untuk memenuhi pengairan lahan tanam.
Dia mengatakan standing crop atau tanaman yang bisa dipanen per hari ini yang dipantau melalui citra satelit yakni 4,6 juta hektare (ha). Sementara sebelum infrastruktur dibangun jumlahnya hanya di bawah empat juta ha.
Amran pun mencoba membandingkan kondisi kekeringan tahun sebelumnya yang berdampak pada puso atau gagal panen. Tahun sebelumnya, gagal panen terjadi pada 100 ribu ha lahan. Sementara tahun ini 3.000 hektar.
"Masa kritis itu Juli, Agustus, September. 3 bulan ini alhamdulillah rata-rata ada luas tambah tanam satu juta karena kita punya strategi baru menangani paceklik, tidak boleh menanam di bawah satu juta kalau mau menghilangkan paceklik di bulan November, Desember, Januari," ujar dia.
Tahun lalu, dengan kebijakan tersebut dia mengklaim tak ada goncangan harga. Lebih jauh, dia menambahkan pihaknya membuat solusi permanen untuk menghilangkan paceklik yakni dengan rumusan setiap bulan selama 12 bulan minimal satu juta ha, kemudian menanam bawang 13 ribu hingga 14 ribu hektar per bulan, menanam cabai 35 ribu hektar perbulan.
"Ini rumusan harus kita pegang, setiap hari dimonitor," jelas Amran.
(SAW)
Sumber : Ekonomi Metronews
Tidak ada komentar